Ciganjur— Bulan April juga menjadi momentum penting bagi Lakpesdam PBNU. Tepatnya 6 April, 32 tahun lalu, PBNU melahirkan Lakpesdam sebagai lanjutan semangat Khittah NU usai Muktamar Situbondo 1984. Semangat tersebut dirayakan dengan tumpengan di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan.

Selain merayakan harlah, Lakpesdam juga melanjutkan spirit program bagi pelatihan kader syuriah melalui PPWK (Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan) Daurah Ula Angkatan Pertama yang diikuti perwakilan 6 PWNU (Sumut, Lampung, Banten, Jabar, Kalsel, Sulsel dan NTB). Peserta yang terlibat di PPWK ini sebelumnya dilakukan seleksi di PWNU masing-masing dengan poin kemampuan bacaan kitab kuning sebagai kader syuriah. Pelatihan akan berlangsung mulai 18-22 April 2017 di pesantren.

Dalam sambutan awal, Kepala Madrasah, Marzuki Wahid menyampaikan terimakasih kepada semua pihak, termasuk peserta yang hadir dari masing-masing daerah yang bersemangat. Berikutnya Ketua Lakpesdam PBNU, Rumadi Ahmad menyampaikan perayaan Harlah Lakpesdam dilanjutkan dengan penjelasan bahwa acara ini layaknya menghidupkan semangat Lakpesdam sebagai Lemhanasnya PBNU untuk kader syuriah. Tiga daurah diharapkan diikuti oleh peserta setiap angkatan, mulai dari perbincangan NU, Islam dan Kebangsaan, dilanjut dengan tema tata kelola pemerintahan dan anti korupsi, dan diakhiri dengan peran NU dalam gerakan sosial dan kemasyarakatan.

Acara dibuka oleh Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj sore ba’da Ashar dengan menyampaikan pentingnya menyiapkan kader syuriah dengan bekal ilmu yang luas dan wawasan muwatanah (citizenship). Kyai menyindir banyak pengurus NU yang hafal soal tasamuh, tawasuth dan ide-ide mabadi khaira ummah, namun baru kedatangan ‘tamu’ non muslim sudah ‘geger’. Padahal praktek berhubungan dengan non muslim ini biasa saja, dilakukan dalam membangun agenda lebih besar bagi kemuliaan Islam dan kemanusian. Bagaimana membangun Islam dengan keluasan ilmu, dengan bekal tsaqafah, hadharah dan berujung tamaddun.

Momentum harlah dan pembukaan PPWK ini dihadiri pengurus Lakpesdam PBNU, juga beberapa senior dan stakeholders Lakpesdam, dan beberapa lembaga di PBNU. KH Abdullah Syarwani, Ulil Abshar Abdalla, Sulthon Fatoni, Muntajid Billah, Maria Ulfah Anshor adalah deretan nama yang mendapat potongan tumpeng.

Peserta PPWK sudah mendapat pembekalan langsung dari Rais Am PBNU, KH Ma’ruf Amin yang membincang Manhajul Fikr an-Nahdly dengan memastikan bahwa aswaja sebagai manhaj tathwir (dinamis, inovatif) dan taswiyah (penjernihan). Dilanjut dengan penjelasan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj yang memperdalam terkait prinsip muwatanah.