Bogor,
Sekitar 20 anak di bawah usia limat tahun (balita) ikut serta pada Rapat Kerja Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya (Lakpesdam) PBNU yang berlangsung di Ciloto, Bogor, Jawa Barat mulai Jumat (27/1) akan berlangsung sampai Ahad (29/1).

Mereka turut serta dengan orang tuanya yang tengah mendesain rencana setahun lembaga tersebut. Namun, mereka punya jadwal dan aktivitas sendiri seperti tendang-tendang bola di halaman. Naik kuda di pagi hari dan merengek meminta sesuatu kepada orang tuanya.

Para balita dihadirkan pada perkenalan seluruh pengurus dan pelaksan harian Lakpesdam PBNU pada Jumat malam di aula Wisma Karya Jasa. Sebagian duduk lesehan, sebagian duduk di kursi-kursi yang ditata melingkari lesehan tersebut.

Lalu para orang tua memperkenalkan istri atau suami serta anak-anaknya satu per satu di depan mereka. Setelah memperkenalkan suami atau istri, orang tua memperkenalkan anak-anak yang hadir dan tidak. Termasuk bayi. Ada yang memperkenalkan hobi anaknya, sekolahnya, dan prestasinya. Kemudian tepuk tangan dari seluruh hadirin.

“Anak saya ini hobinya mempertahankan tanah air, membela negara,” ungkap Wakil Bendahara Lakpesdam PBNU Iftah Sidik saat memperkenalkan anaknya yang bernama Muhammad Luthfi yang suka bermain COC di android. Nama anaknya itu diberikan oleh Rais Aam Jam’iyyah Ahlut Thariqah Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya.

Ia bercerita, anak pertama bernam Aqila yang berusia sepuluh tahun telah hafal mars IPPNU dan bercita menjadi pengurus IPPNU kelak. Muhammad Luthfi juga hafal mars IPPNU karena yang sering didengarnya adalah mars itu.

Iftah mengaku kerap membawa anaknya ke kantor Lakpesdam NU supaya mengalami dan melihat aktivitas NU. Hal itu menjadikan NU sebagai pengalaman. “Pengalaman tentang NU buat anak itu penting. Usia anak saya itu saat golden age. Ia akan mengingat seumur hidup tentang NU. Hal itu juga yang dilakukan ayah saya.

Ia mengaku tertarik dengan pesantren dan NU karena bapaknya tidak habis-habis bercerita tentang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan pesantren. Ia ketika kelas lima SD telah mendengar nam Gus Dur.

Rata-rata anak-anak mau turut tampil ke depan. Ketika perkenalan ada anak yang merebut mikropon orang tuanya. Kemudianberbicara apa saja. Semaunya. Namun, ada pula anak yang tidak mau ke depan, tapi asyik dengan permainan di ponsel pintar milik orang tuanya.

Kemudian keluarga yang telah memperkenalkan diri, diperkenankan mengambil undian. Lalu dibuka satu per satu sesuai jumlah keluarga yang hadir. Setelah dibuka, undian itu ada yang berisi bola, jam tangan besar, kanebo, tisu, dan lain-lain yang dibungkus rapi oleh panitia. Lalu setiap keluarga yang telah memperkenalkan diri diabadikan melalui kamera digital.

‘Awan PBNU Hj. Sri Mulyati menyaksikan keakraban pengurus Lakpesdam PBNU dan keluarganya itu. Menurut dia, hal itu adalah bentuk perhatian lembaga NU kepada anggota keluarga pengurusnya. Hal itu penting dilakukan karena pengurus NU tidak terlepas dari dukungan dari anggota keluarganya.

“Ibu-ibu yang ada di sini tidak terlepas dari dukungan suami dan putra-putrinya. Begitu juga bapak-bapak tidak terlepas dari dukungan istri dan putra-putrinya,” katanya.

Keberhasilan suami atau istri yang menjadi pengurus NU, lanjutnya, tidak bisa dilepaskan dari dukungan pasangan dan anggota keluarganya.

Salah seorang pengurus Lakpesdam NU, Dadi Darmadi berpendapat, melibatkan keluarga pada Raker Lakpesdam menjadikan kegiatan profesional itu ramah keluarga.

“Dan menurut saya Lakpesdam berkepentingan untuk itu dengan konsep kesetaraan dan keadilan. Kedua sebagai internalisasi nilai-nilai dan sikap keagamaan yang terbuka wawasan kebangsaan sedini mungkin. Di situ strategisnya.”

Jadi, lanjutnya, dengan melibatkan keluarga, aktivis NU bukan hanya tercerahkan pemikirannya secara pribadi, tapi terefleksikan di keluarga. Pemikiran aktivis NU yang memandang kemajemukan sebagai hal yang positif, menerima perbedaan, itu bisa tersampaikan sejak kecil.

“Saya tidak merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak teman-teman. Itu asyik malah. Menjadikan kehidupan aktivisme profesional dan keluarga menjadi lebih dekat. Keluarga itu sebagai cerminan dari nilai-nilai sosial yang paling mendasar,” lanjutnya.

Menurut dia, hal itu patut dicontohlembaga lain di NU. Karena dengan begitu, kejam’iyyahan NU didekatkan kepada konteks bermasyarakat yang paling dekat, anggota keluarga agar tidak tercerabut dari akar NU. (ir/Abdullah Alawi)

 

Sumber: NU Online