Bogor,
Menteri Tenaga Kerja M. Hanif Dhakiri bercerita bahwa dia mengenal Nu sejak ia mulai bisa mengingat. Karena di rumahnya ada logo NU dengan figura dan kalendar NU. Serta gambar-gambar tokoh NU seperti Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Sansoeri, dan lain-lain.

“Perkenalan awal secara simbol. Ada di rumah komplit,” katanya selepas menjadi narasumber pada diskusi bertema “NU di Tengah Gelombang Populisme” yang menjadi pembuka Rapat Kerja Lakpesdam PBNU di  Wisma Karya, Ciloto, Bogor, Jawa Barat, Jumat (27/1).

Kemudian, orang tuanya yang kebetulan aktif di NU menceritakan langsung pengalamannya. Juga menceritakan pengalaman kakeknya yang juga aktif di NU. Tak hanya itu, orang tuanya mengajak Hanif mengikuti kegiatan-kegiatan rutinan NU di Salatiga.

Ditanya apakah orang tuanya berpesan untuk aktif di NU ketika dewasa, Hanif menjawab pasti. “Intinya harus mengabdi kepada NU. Terjemahan orang kampung kayak abah saya, mengabdi kepada bangsa dan kepada negara itu, ya mengabdi kepada NU,” jelas politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu .

Lalu, sebagai orang tua, Hanif melakukan hal yang sama kepada anak-anaknya. “Apa yang orang tua lakukan kepada saya, saya lakukan kepada anak saya. Satu simbol. Kalau Anda ke rumah saya, akan menemukan logo NU, foto-foto tokoh NU. Ada semua.”

Kemudian, menurut pria yang aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu, anak diperkenalkan kepada buku-buku bacaan tentang NU. “Saya orang yang suka membaca. Tentang bacaan NU, semuanya ada. Karena saya kan selalu ada perpustakaan. Di rumah dinas, ada perpustakaan. Di rumah saya sendiri, ada perpustakaan. Di rumah orang tua saya di Salatiga, isinya banyak tentang NU, tokoh NU, dan ajaran NU.”

Ia menyarankan kepada orang tua NU, untuk memperkenalkan NU kepada anak-anak sedari dini. “Anak harus diperkenalkan dengan simbol-simbol NU, tokoh-tokoh NU. Kemudian pikiran-pikiran NU. Untuk memperkenalkan NU diajak ke acara-acara NU, di situ dia akan melihat dan mempertanyakan apa yang dilihatnya. Jika saya mengajarkan nasionalisme saya ajak nonton bola. Bukan bolanya yang penting, tapi teriakan penonton “Indonesia”, “Indonesia”,” paparnya.

Di usia yang ke-91 tahun berdasar penanggalan Masehi, menurut Hanif, NU harus tetap menjadi suluh bagi bangsa ini secara keseluruhan. Saya merasa NU sudah berada di jalur yang benar. Bahkan salam situasi sekarang ini. NU sudah berada pada track yang benar! NU harus tetap menjadi kelompok yang menggelorakan Islam rahmatan lil alamin yang moderat, toleran, bisa merangkul semua anak bangsa menjadi bagian yang bisa berkontribusi kepada Indonesia,” pungkasnya. (ir/Abdullah Alawi)

 

Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/74975/bagaimana-menaker-hanif-dhakiri-menjadi-nu