Lakpesdam PBNU  Kamis, 2-4 Juni 2016, Lakpesdam PBNU bersama Kemenag mengadakan acara Halaqoh Nasional Penyusunan Kerangka Kurikulum Ma’had Aly di The Media Hotel, Jakarta. Ada 13 lokasi Ma’had Aly yang menjadi target awal penyusunan lokasi, dan dihadiri antara lain ma’had aly Situbondo, Tebuireng, Tremas,  Sarang, Ciwaringin, Sengkang (Sulawesi), Jakarta, dan Tasikmalaya. Disamping peserta ma’had aly, hadir juga para sesepuh dan nara sumber, antara lain KH Masdar Farid Mas’udi, KH Miftahul Akhyar, KH. Khotibul Umam dan lain-lain.

Dalam sambutannya, ketua lakpesdam PBNU, Rumadi Ahmad menegaskan bahwa acara ini penting untuk menguatkan SDM dan kaderisasi ulama melalui ma’had aly. “Ini juga menjadi jawaban bahwa untuk menjadi ulama membutuhkan kualifikasi, termasuk sanad keilmuan yang mutawatir. Bukan seperti banyak dibicarakan akhir-akhir ini, ustadz-ustadz dadakan yang sanad dan kualifikasinya tidak jelas.” Dari sini diharapkan lahir rumusan-rumusan kurikulum bagi penguatan ma’had aly.

Sambutan berikutnya, Waketum PBNU, Prof. Maksum Mahfudz menguatkan pentingnya eksistensi dan signifikansi ma’had aly. “Perlu dijelaskan bedanya dengan perguruan tinggi Islam lain, semisal UIN, IAIN, termasuk di luar negeri.” Keberadaan ma’had aly memang memiliki tantangan yang harus dijawab melalui perumusan kurikulum ini, dan atas nama PBNU, Prof. Maksum menyambut dengan senang hati.

Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin yang menjadi pembuka acara mengawali dengan kalimat, “Saya menyempatkan waktu untuk hadir di sini, konsen dengan pesantren, terlebih ma’had aly. Sebab, pesantren memiliki sejarah panjang bagi perjalanan negeri ini. Memiliki tradisi dan nilai positif bagi pondasi keagamaan dan keindonesiaan.”

Lebih lanjut, forum ini perlu mendapat perhatian serius, ditengah tantangan global dan era digital. Ini menunjukkan kepedulian pemerintah, termasuk dengan terbitnya PMA No.71/2015 tentang Ma’had Aly. “Ini bukan bermakna intervensi, namun lebih pada fasilitasi dan penguatan pesantren. Diharapkan melalui penyusunan kurikulum ini, ma’had aly memiliki standard minimal kompetensi dengan satu bidang kekhususan yang fokus sebagaimana telah dipilih oleh masing-masing penyelenggara ma’had aly.”

Disamping kekhususan semisal fiqh, hadits, tafsir, atau tasawuf,  Lukman yang juga mantan ketua Lakpesdam berharap, ada distingsi (pembeda) agar tidak terjadi tumpang tindih yang harus dipikirkan bersama terkait output yang dihasilkan dari ma’had aly. Berikutnya Lukman juga menekankan tambahan wawasan keindonesiaan dan keberagaman, termasuk kemampuan analisis sosial yang dimiliki para alumni ma’had aly.

Dari sinilah, suara harapan yang juga diamini banyak peserta bahwa kaderisasi ulama akan terus berjalan, termasuk rumusan kurikulum yang akan dikumonikasikan dengan para kyai dan ulama sehingga mampu melahirkan kader ulama yang memiliki riwayat, sanad dan silsilah keilmuan yang mantab.