Lakpesdam PBNU, Garut – Dahulu wilayah ini banyak dihuni oleh para pengikut dan simpatisan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Tepatnya di kecamatan Singajaya Garut. Mereka meyakini Indonesia akan menjadi negara Islam. “Itu dulu. Kini tidak lagi,” kata Aan Syihabuddin Rais Syuriah MWC Singajaya Garut.

Orientasi mereka bisa berubah, karena tokoh-tokoh NU berhasil merangkul masyarakat untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi Islam ala ahlus sunnah wal jamaah annahdliyah. Mereka diajari amaliyah NU dan diberikan pemahaman pentingnya menjadi warga negara Indonesia yang baik dengan tetap dapat mengamalkan ajaran Islam. “Dengan begitu perlahan mereka sadar dan ikut dengan kami,” terang Aab yang juga pengasuh Pondok Pesantren Manarul Huda Pancasura, Singajaya.

garut-1Meski warganya mengamalkan amaliyah NU, secara jamiyyah, NU belum hadir di sini. Struktur MWC NU di Singajaya baru terbentuk tahun ini, setelah lama fakum puluhan tahun. Untuk itu, Lakpesdam PBNU bersama dengan MWC singajaya berinisiatif untuk mengadakan pelatihan penggerak NU untuk menggerakkan pengurus ranting di kecamatan Singajaya. Pelatihan ini telah berlangsung pada 22-25 April di Pondok Pesantren Manarul Huda, Pancasura Singajaya.

Selaian pelatihan, kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini dirangkai dengan berbagai acara, diantaranya: nonton bareng Film Sang Kyai, Majelis Taklim Fatayat-Muslimat, dan Tabligh Akbar. Acara tersebut berjalan sukses berkat swadaya masyarakat. “Yang punya kambing, sumbang kambing. Yang punya ayam berikan ayam. Yang punya buah-buahan, pada menyumbangkan. Semuanya dari warga sini. Mereka semua berpartisipasi,” jelas ajengan Aab.

Menurut sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid, pergerakan NU di Singajaya ini perlu diperkuat karena kelompok lain juga melakukan penetrasi di daerah yang berbasis di pedalaman pegunungan Garut ini. Mantan pengikut DI/TII yang masih loyal, sebagian kecil dari mereka, ada yang kembali berdakwah untuk mencari pengikut. Masyarakat sekitar menyebut mereka dengan istilah Islam baiat. Sebab, siapapun yang ikut kelompok ini harus dibaiat terlebih dahulu.

Ini tantangan harus dihadapi oleh NU di sini. “Dengan pelatihan penggerak ranting ini, saya berharap pengurus dan aktivis ranting di kecamatan Singajaya dapat mengoptimalkan perannya dalam pemberdayaan masyarakat dan menggerakkan jamiyah NU di desa-desa demi terciptanya kemaslahatan warga,” terang Marzuki